Jumat, 28 Desember 2012
antisipasi banjir, SDPU TATA AIR (Pompa Kebon Nanas)
kami memang tidak sempurna. hujan adalah berkah dari-Nya.
tapi kami selalu berusaha semaksimal mungkin meminimalisasi banjir yg ada. banjir yg membuat ketidaknyamanan pengguna jalan selalu kami coba untuk mengantisipasinya. maka bantulah kami dengan tidak membuang sampah di kali dan got-got saluran air, itu akan sangat membantu kinerja kami dalam usaha mengantisipasi banjir. kami selalu percaya akan kesadaran anda dan itu untuk kenyamanan anda pula.
Rabu, 31 Oktober 2012
Mati Itu Pasti
assalam mu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
_>_>_>_>bismillaahirrahmaa nirrahiim<_<_<_<_
========================== =========
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka
_>_>_>_>bismillaahirrahmaa
==========================
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka
n.
(QS.Ali Imron: 185)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
(QS.An Nisaa`: 78)
kematian pasti akan datang, cepat atau lambat, itulah takdir manusia yg ga bisa di ubah oleh siapapun karna itulah takdir mutlak dari-Nya.
kita bisa liat kegambar itu, akan berada dimanakah saat terakhir kita di alam dunia.
kematian ga pernah mandang siapapun, kapanpun n di manapun sob dan ga ada yg bisa nolong kita untuk menghindari takdir ajal kita.
ga semua yg kita sukai akan baik bagi kita, tapi seringkali apa yg kita enggan kerjakan itu adalah suatu yg akan menuntun kita untuk mencapai nikmat abadi-Nya.
Allah SWT adalah cinta pertama dan yang paling utama.
(QS.Ali Imron: 185)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
(QS.An Nisaa`: 78)
kematian pasti akan datang, cepat atau lambat, itulah takdir manusia yg ga bisa di ubah oleh siapapun karna itulah takdir mutlak dari-Nya.
kita bisa liat kegambar itu, akan berada dimanakah saat terakhir kita di alam dunia.
kematian ga pernah mandang siapapun, kapanpun n di manapun sob dan ga ada yg bisa nolong kita untuk menghindari takdir ajal kita.
ga semua yg kita sukai akan baik bagi kita, tapi seringkali apa yg kita enggan kerjakan itu adalah suatu yg akan menuntun kita untuk mencapai nikmat abadi-Nya.
Allah SWT adalah cinta pertama dan yang paling utama.
Hukum Membuka Aurat Bagi Seorang Perempuan Terhadap Perempuan Lainnya
Selasa, 4 Juli 2006 14:21:35 WIB
HUKUM MEMBUKA AURAT BAGI SEORANG PEMBANTU (PEREMPUAN) TERHADAP TUAN RUMAH YANG PEREMPUAN.
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kami mempunyai pembantu wanita, bolehkah ia membuka auratnya di depan para penghuni rumah yang perempuan, perlu diketahui ia adalah wanita muslimah?
Jawaban
Seorang perempuan kepada perempuan lain, boleh saja melihat mukanya, kepala, kedua tangannya, lengan bawah, kedua kakinya dan betisnya baik ia itu muslim ataupun kafir. Berdasarkan pendapat yang benar dalam penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“auwnisaaihinna = atau wanita-wanita” [An-Nur : 31]
Bahwasanya yang dimaksud wanita di sini adalah Al-Jins (jenis) bukan Al-Wafsu (sifat). Namun ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita di sini adalah wanita-wanita Islam, dengan demikian tidaklah boleh bagi seorang wanita Islam membuka aurat kepada wanita kafir. Dan yang tepat adalah yang dimaksudkan dengan kata wanita-wanita di dalam ayat tersebut adalah Al-Jins (jenisnya) yaitu wanita-wanita dan yang termasuk jenis wanita, dengan demikian boleh bagi perempuan muslim membuka sebagian auratnya kepada wanita kafir.
Disini saya jelaskan pada satu masalah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perempuan melihat aurat perempuan lain, lalu sebagian wanita menyangka boleh saja seorang wanita memakai pakaian-pakaian pendek atau ketat yang tidak sampai ke lutut dan boleh memakai baju yang terlihat bagian dadanya sehingga tampak lengan atasnya, dada dan lehernya. Pendapat yang demikian salah, karena hadits ini menjelaskan ketidak-bolehan wanita melihat aurat perempuan lain, maka yang dibicarakan di sini adalah yang melihat bukan yang memakai, dan apapun bagi yang memakai maka wajib memakai pakaian yang menutup tubuhnya.
Adapun pakaian-pakaian isteri-isteri para sahabat sampai kepada pergelangan tangan, kaki dan kedua mata kaki, dan kerap kali ketika hendak pergi ke pasar, mereka memakai pakaian yang panjang sampai menutupi perbatasan hasta kaki. Demikian itu itu untuk menutupi kedua kaki mereka. Maka di sini terdapat perbedaan antara memakai dan melihat, yaitu bilamana seorang perempuan memakai pakaian yang menutupi auratnya, dan ini mengangkat pakaiannya karena suatu hajat atau lainnya, lantas terbukalah betisnya maka tidaklah haram bagi perempuan lain melihatnya.
Demikian pula bilamana perempuan tersebut berada di antara perempuan-perempuan lain, sedangkan ia memakai pakaian (baju) yang menutup auratnya. Lalu kelihatan payudaranya, karena ia ingin menyusukan anaknya, ataupun kelihatan dadanya, karena suatu sebab, maka yang demikian tidaklah mengapa bila kelihatan di depan mereka. Adapun wanita yang sengaja memakai pakaian yang pendek, maka yang demikian tidak boleh, karena hal tersebut mengandung keburukan dan kerusakan.
[Durus Wa Fatawa Haramil Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/264]
HUKUM MENAMPAKKAN RAMBUT DI HADAPAN WANITA NON MUSLIMAH
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah wanita membuka rambutnya di hadapan wanita-wanita non muslim, sedangkan mereka menceritakan kondisinya kepada kerabat laki-laki mereka yang juga bukan muslim?
Jawaban.
Pertanyaan ini berdasar pada perselisihan para ulama tentang penafsiran firman Allah.
" Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita .." [An-Nur ; 31]
Kata ganti dalam ayat “auwnisaaihinna = atau wanita-wanita” para ulama berselisih pendapat tentangnya, sebagian menafsirkan sebagai Al-Jins, yang maksudnya adalah jenis wanita secara umum. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Wasfu (sifat), yaitu hanya wanita-wanita yang beriman saja. Menurut pendapat pertama, diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan rambutnya dan wajahnya di hadapan para wanita kafir dan tidak diperbolehkan menurut pendapat kedua. Kami cenderung memilih pendapat pertama, karena lebih mendekati kebenaran. Karena seluruh wanita itu sama, tidak berbeda antara kafir dan muslimah, apabila tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
Adapun apabila dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, misalnya wanita yang melihat akan memberitahukan kondisinya kepada kerabat laki-laki-lakinya, maka kekhawatiran timbulnya fitnah lebih didahulukan, dan tidak diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan sesuatu dari tubuhnya, semisal badannya, kedua kakinya, rambutnya dan lainnya di hadapan wanita lain, baik itu wanita muslimah atau non muslimah.
[Fatawal Mar’ah 1/73]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Ahmad Amin Syihab, Penerbit Darul Haq]
HUKUM MEMBUKA AURAT BAGI SEORANG PEMBANTU (PEREMPUAN) TERHADAP TUAN RUMAH YANG PEREMPUAN.
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kami mempunyai pembantu wanita, bolehkah ia membuka auratnya di depan para penghuni rumah yang perempuan, perlu diketahui ia adalah wanita muslimah?
Jawaban
Seorang perempuan kepada perempuan lain, boleh saja melihat mukanya, kepala, kedua tangannya, lengan bawah, kedua kakinya dan betisnya baik ia itu muslim ataupun kafir. Berdasarkan pendapat yang benar dalam penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“auwnisaaihinna = atau wanita-wanita” [An-Nur : 31]
Bahwasanya yang dimaksud wanita di sini adalah Al-Jins (jenis) bukan Al-Wafsu (sifat). Namun ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita di sini adalah wanita-wanita Islam, dengan demikian tidaklah boleh bagi seorang wanita Islam membuka aurat kepada wanita kafir. Dan yang tepat adalah yang dimaksudkan dengan kata wanita-wanita di dalam ayat tersebut adalah Al-Jins (jenisnya) yaitu wanita-wanita dan yang termasuk jenis wanita, dengan demikian boleh bagi perempuan muslim membuka sebagian auratnya kepada wanita kafir.
Disini saya jelaskan pada satu masalah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perempuan melihat aurat perempuan lain, lalu sebagian wanita menyangka boleh saja seorang wanita memakai pakaian-pakaian pendek atau ketat yang tidak sampai ke lutut dan boleh memakai baju yang terlihat bagian dadanya sehingga tampak lengan atasnya, dada dan lehernya. Pendapat yang demikian salah, karena hadits ini menjelaskan ketidak-bolehan wanita melihat aurat perempuan lain, maka yang dibicarakan di sini adalah yang melihat bukan yang memakai, dan apapun bagi yang memakai maka wajib memakai pakaian yang menutup tubuhnya.
Adapun pakaian-pakaian isteri-isteri para sahabat sampai kepada pergelangan tangan, kaki dan kedua mata kaki, dan kerap kali ketika hendak pergi ke pasar, mereka memakai pakaian yang panjang sampai menutupi perbatasan hasta kaki. Demikian itu itu untuk menutupi kedua kaki mereka. Maka di sini terdapat perbedaan antara memakai dan melihat, yaitu bilamana seorang perempuan memakai pakaian yang menutupi auratnya, dan ini mengangkat pakaiannya karena suatu hajat atau lainnya, lantas terbukalah betisnya maka tidaklah haram bagi perempuan lain melihatnya.
Demikian pula bilamana perempuan tersebut berada di antara perempuan-perempuan lain, sedangkan ia memakai pakaian (baju) yang menutup auratnya. Lalu kelihatan payudaranya, karena ia ingin menyusukan anaknya, ataupun kelihatan dadanya, karena suatu sebab, maka yang demikian tidaklah mengapa bila kelihatan di depan mereka. Adapun wanita yang sengaja memakai pakaian yang pendek, maka yang demikian tidak boleh, karena hal tersebut mengandung keburukan dan kerusakan.
[Durus Wa Fatawa Haramil Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/264]
HUKUM MENAMPAKKAN RAMBUT DI HADAPAN WANITA NON MUSLIMAH
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah wanita membuka rambutnya di hadapan wanita-wanita non muslim, sedangkan mereka menceritakan kondisinya kepada kerabat laki-laki mereka yang juga bukan muslim?
Jawaban.
Pertanyaan ini berdasar pada perselisihan para ulama tentang penafsiran firman Allah.
" Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita .." [An-Nur ; 31]
Kata ganti dalam ayat “auwnisaaihinna = atau wanita-wanita” para ulama berselisih pendapat tentangnya, sebagian menafsirkan sebagai Al-Jins, yang maksudnya adalah jenis wanita secara umum. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Wasfu (sifat), yaitu hanya wanita-wanita yang beriman saja. Menurut pendapat pertama, diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan rambutnya dan wajahnya di hadapan para wanita kafir dan tidak diperbolehkan menurut pendapat kedua. Kami cenderung memilih pendapat pertama, karena lebih mendekati kebenaran. Karena seluruh wanita itu sama, tidak berbeda antara kafir dan muslimah, apabila tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.
Adapun apabila dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, misalnya wanita yang melihat akan memberitahukan kondisinya kepada kerabat laki-laki-lakinya, maka kekhawatiran timbulnya fitnah lebih didahulukan, dan tidak diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan sesuatu dari tubuhnya, semisal badannya, kedua kakinya, rambutnya dan lainnya di hadapan wanita lain, baik itu wanita muslimah atau non muslimah.
[Fatawal Mar’ah 1/73]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Ahmad Amin Syihab, Penerbit Darul Haq]
Selasa, 30 Oktober 2012
Bertemu Karena Allah, dan Berpisah Karena Allah
Monday, 19/09/2011 11:03 WIB | Arsip | Cetak
oleh Mashadi
Sebelum Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam wafat, beliau sempat menyiapkan pasukan di bawah panglima muda, Usamah bin Zaid, yang ditugaskan mengamakan perbatasan dari serangan Romawi. Inilah peninggalan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, sebelum wafat. Betapa beliau sangat memperhatikan keselamatan umatnya dari ancaman orang-orang Romawi.
Ketika Abu Bakar As-Shiddiq menjadi khalifah , para shahabat utama mengusulkan agar pasukan yang belum sempat diberangkatkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam itu, tidak diberangkatkan, tetapi digunakan untuk menjaga kota Madinah yang terancam musuh. Madinah menghadapi ancaman dari orang-orang yang murtad.
Abu Bakar ra menolak usulan shahabat utama itu. Khalifah pertama itu menjawab dengan kata-kata yang mencerminkan limpahan kekuatan, keteguhan iman, tekad dan komitmentnya yang tidak dapat ditawar-tawar mengikuti jejak Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam.
"Wallahi. Aku tidak akan membatalkan apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, sekalipun burung-burung menyambar kita, binatang buas mengepung Madinah, dan anjing-anjing menyeret Ummul Mukminin. Aku akan tetap memberangkatkan pasukan Usamah! Dan seandainya di negeri ini tidak ada yang tersisa kecuali aku, pasti aku akan tetap melaksanakana itu", tegas Abu Bakar as-Shiddiq.
Usamah ketika itu usianya baru 20 tahun, sedangkan di dalam pasukan itu, banyak para sahabat utama dari Anshar dan Muhajirin yang lebih senior, dan para shahabat meminta kepada Umar ibn Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar agar mengganti Usamah. Tetapi, Abu Bakar malah marah. Sambil memegang janggut Umar, kemudian Abu Bakar berkata : "Engkau meminta aku untuk mengganti orang yang telah ditunjuk oleh Rasulullah?", tegasnya.
Akhirnya, Abu Bakar melepaskan pasukan yang dipimpin Usamah. Khalifah yang menggantikan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mengantarkan pasukan yang dipimpin Usamah, hingga keluar kota Madinah, dan Abu Bakar berjalan kaki, sedangkan Usamah menaiki kuda.
Usamah berkata : "Wahai Khalifah Rasulullah. Kita naik kuda ber sama-sama atau berjalan kaki bersama-sama". Kemudian Abu Bakar menukasnya : "Tidak. Naiklah. Aku ingin mengotori kakiku dengan debu fi sabilillah beberapa jam lamanya", ucapnya.
Abu Bakar memberikan tausiah saat melepas pasukan, sebagai bukti pemahamannya yang mendalam terhadap ruh al-Qur'an.
"Janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian menipu dan berbuat dusta. Janganlah kalian mencabik-cabik jenazah musuh. Janganlah membunuh anak-anak, orang tua yang lemah, dan kaum wanita. Janganlah kalian menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian menyembelih kambing, sapi, unta, kecuali untuk dimakan. Kalian juga akan menemui kaum yang tetap beribadah di tempat-tempat ibadah, biarkanlah mereka dengan pekerjaannya. Berangkatlah kalian dengan menyebut nama Allah .."
Usamah bin Zaid ra berangkat, maka pemberontakan di Yaman semakin merajalela. Musalaimah danThulaihah mulai menyeru orang-orang untuk mengakui kenabian mereka. Tidak sedikit diantara mereka menyambutnya. Sebagian penduduk di jazirah Arab menolak membayar zakat. Bahkan Abu Bakar menerima informasi para pemberontak telah mengepung Madinah dan memerangi orang-orang Islam. Timbul kegoncangan dikalangan kaum Muslimin.
Abu Bakar ra bermusyawarah dengan para shahabat utama untuk memerangi orang-orang yang ingkar. Tetapi, sebagian besar para shahabat menolak. Maka, Abu Bakar berkata : "Wallahi. Seandainya mereka menolak menyerahkan zakat unta dan kambing yang pernah serahkan kepada Rasulullah, pasti aku perangi mereka", tegasnya.
Mendengar ucapan Abu Bakar itu, Umar berkata : "Mengapa kita harus membunuh mereka, bukanlah Rasulullah telah bersabda : "Aku telah diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan "laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan Rasulullah", barangsiapa yang telah mengucapkannya, maka terpelihara harta dan darahnya dariku, kecuali karena haknya, sedang penghisaban mereka ada pada Allah".
Abu Bakar menjawab : "Wallahi. Aku akan memerangi orang yang memisahkan zakat dan shalat. Sesungguhnya zakat adalah hak pada harta. Sedang Nabi bersabda pada hadist itu : " .. Keculai karena haknya". Mendengar jawaban Abu Bakar itu, kemudian Umar menukasnya : "Wahai Khalifah Rasulullah! Lemah lembutlah kepada manusia!", ucap Umar.
Abu Bakar menanggapi dengan marah sanggahan Umar : "Hai Umar. Tadinya aku berharap engkau membantuku, ternyata engkau lemah. Apakah engkau pemberani saat jahiliyah dan pengecut setelah Islam? Agama telah sempurna, dan wahyu telah habis".
Dan ketika ditanya dengan siapa engkau memerangi mereka, maka Abu Bakar menjawabnya : "Sendirian".
Pendirian Abu Bakar mencerminkan dalamnya pandangannya terhadap fikrah Islam dan keteguhannya. Sekiranya Abu Bakar menerima keislaman mereka yang kurang karena tidak membayar zakat, berarti Abu Bakar membuat cacat terhadap prinsip (mabda') ajaran Islam dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Jika Abu Bakar lemah menghadapi orang-orang yang murtad dan tidak membayar zakat, di masa depan akan meninggalkan tradisi berbahaya yang merusak rukun dan mabda' Islam bagi generasi yang akan datang.
Abu Bakar tahu sikapnya itu akan mengundang bahaya bagi umat Islam dan Daulah Islam yang baru berdiri. Namun Khalifah yang masyhur itu, tetap berpegang pada pendiriannya. Berpegang teguh kepada yang haq dan memelihara keutuhan Islam secara sempurna bagi generasi Muslim sesudahnya. Ketimbang memelihara keutuhan kaum Muslimin dan negaranya. Namun, tanpa memiliki fikrah yang benar dan ajaran yang utuh. Karena, daulah itu bukan tujuan. Sehingga fikrah Daulah didirikan untuk dakwah, untuk memelihara dan membela dakwah. Abu Bakar memilih menyelamatkan umat Islam dari fitnah dan melindungi Islam dari cacat dan kebinasaan.
Orang-orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat itu, tahu kekuatan umat Islam di Madinah yang dipimpin Abu Bakar. Jumlahnya masih sangat sedikit dan tidak ada pasukan disitu. Maka Abu Bakar as-Shiddiq mengumpulkan kaum Muslimin. Seraya mengucapkan :
"Di negeri ini telah muncul kekafiran. Utusan mereka telah melihat jumlah kalian sedikit. Dan kalian tidak tahu. Entah siang atau malam, kalian akan diserang oleh mereka. Yang paling dekat dengan kalian adalah kurang dari 12 mil. Mereka menginginkan kita mengikuti kemauan mereka, tetapi kita menolaknya, maka bersiap-siaplah kalian", tegas Abu Bakar.
Akhirnya pecah pertempuran. Abu Bakar memimpin kaum Muslimin memerangi orang-orang kafir dan murtad. Ketika kabilah-kabilah melihat orang-orang yang murtad dan kafir itu kalah, kemudian mereka membayar zakat kepada Abu Bakar.
Kemudian, kaum Muslimin mereka menyaksikan pula pasukan yang dipimpi Usamah bin Zaid itu pulang dengan membawa kemenangan. Pertempuran itu mengingatkan para shahabat pada peristiwa Badr, di mana jumlah kaum Muslimin yang masih sedikit, ketika menghadapi orang-orang kafir, dan memperoleh kemenangan.
Dalam harbur riddah (peperang melawan orang murtad) mendapat ujian, dan kaum Muslimin dapat mengalahkan orang-orang yang murtad, dan jazirah Arab kembali ke pangkuan Islam, kembali kepada dienul haq dan berwala' (memberikan loyalitasnya) kepada Daulah Islam.
Abu Bakar menjadi Khalifah tidak terlalu lama. Hanya 2,5 tahun. Kemudina wafat. Ketika kondisinya semakin payah, dan keinginannya mengangkat Umar ibn Khattab untuk menggantikannya, kemudian mendapatkan persetujuan kaum Muslimin dan para Shahabat, maka ia memanggil Utsman bin Affan menuliskan sebuah wasiat.
Bismillaahirrahmanirrahim.
"Sesungguhnya aku jadikan Umar bin Khattab sebagai khalifah atas kalian sepeninggalku, maka dengar dan patuhilah kepadanya. Sesungguhnya aku tidak mengabaikan kebaikan bagi Allah, Rasul, din-Nya, diriku dan kalian. Bila Umar berlaku adil, maka itulah dugaanku dan pengetahuanku tentangnya. Bila ia berbuat berbeda, maka setiap orang akan menanggung kesalahan yang diperbuatnya. Yang aku inginkan hanyalah kebaikan dan aku tidak mengetahui yang ghaib. Orang-orang yang berbuat zalim akan mengetahui ke mana mereka akan kembali".
Wassalamu'alaikum warahmatullah.
Kemudian Abu Bakar bertanya : "Relakah kalian dengan yang aku angkat?" Demi Allah. Sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh dengan pendapatku. Aku tidak mengangkat kerabatku, tetapi aku mengangkat Umar ibn Khattab. Maka dengarkanlah dan patuhilah ia". Mereka menjawab : "Kami mendengar dan patuh!". Mereka pun membai'at Umar.
Setela itu Abu Bakar menyampaikan pidatonya saat-saat terakhir hidupnya.
"Seungguhnya aku mengangkatmu sebagai khalifah sepeninggalku. Aku berwasiat kepada engkau, hendaklah bertaqwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah mempunyai amal di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari, dan amal di siang hari yang Dia tidak terima di malam hari. Dia tidak menerima ibadah nafilah (sunnah) sampai ibadah fardhu dijalankan. Bila engkau telah memelihara wasiatku ini, maka tidak ada kegaiban yang lebih engkau cintai selain kematian. Sedang ia akan menimpamu. Jika engkau mengabaikan pesanku , maka tidak ada kegaiban yang lebih engkau benci selain kematian".
Setelah Umar beranjak, Abu Bakar berdoa :
"Ya Allah. Aku tidak menginginkan kecuali kebaikan pada mereka. Aku takut mereka terkena fitnah, maka aku berbuat untuk mereka dengan sesuatu yang Engkau Lebih Tahu dan untuknya aku berjihad".
Sebelum meninggal Abu Bakar berucap kepada keluarganya. Diantarnya :
"Sejak diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin, kami sungguh tidak pernah makan dinar maupun dirham mereka. Kami hanya makan tepung kasar untuk perut kami. kami juga hanya memakai pakaian kasar untuk tubuh kami. Maka perhatikanlah, jika ada yang lebih pada hartaku, sejak aku menjadi khalifah. Maka ambillah ia dan serahkanlah kepada khalifah sesudahku", ujar Abu Bakar as-Shiddiq.
Aisyah ra bertutur : "Ketika Abu Bakar meninggal kami periksa warisan yang ia tinggalkan. Ternyata kami hanya mendapatkan seorang budak(hamba sahaya) Habsyi (hitam), seekor unta pengangkut air, dan baju usang yang harganya hanya lima dirham.
Kemudian kami menyerahkan kepada Umar ibn Khattab. Melihat barang-barang itu, Umar meneteskan air matanya, seraya berkata : "Wahai Abu Bakar. Engkau telah menjadikan khalifah sesudah engkau susah untuk menirumu", ucapnya. Lalu, Umar menyerahkan barang-barang itu ke baitul mal.
Bertemu karena Allah, dan berpisah karena Allah. Itulah diantara sikap orang-orang mukmin, yang senantiasa ingat akan Rabbnya. Wallahu'alam.
Minggu, 28 Oktober 2012
10 KIAT TEGAR MENGHADAPI COBAAN
Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi seti
ap ujian dan cobaan.
Pertama: Mengimani takdir ilahi
Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[1]
Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [2]
Kedua: Yakinlah, ada hikmah di balik cobaan
Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui.[3] Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39)
Ketiga: Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa
Ingatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي
“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”[4]
Dalam lafazh yang lain disebutkan,
مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ
“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”[5]
Keempat: Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”[6]
Kelima: Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6). Qotadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan,
لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
“Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”[7]
Keenam: Hadapilah cobaan dengan bersabar
'Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.
“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[8]
Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.[9]
Ketujuh: Bersabarlah di awal musibah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”[10] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.
Kedelapan: Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar
Ingatlah janji Allah,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[11]
Kesembilan: Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un ...”
Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do'a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”[12]
Do'a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Kesepuluh: Introspeksi diri
Musibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30). Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.[13] Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”[14]
Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/
Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 25 Shofar 1431 H
Pertama: Mengimani takdir ilahi
Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[1]
Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [2]
Kedua: Yakinlah, ada hikmah di balik cobaan
Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui.[3] Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39)
Ketiga: Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa
Ingatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي
“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”[4]
Dalam lafazh yang lain disebutkan,
مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ
“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”[5]
Keempat: Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”[6]
Kelima: Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6). Qotadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan,
لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
“Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”[7]
Keenam: Hadapilah cobaan dengan bersabar
'Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.
“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[8]
Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.[9]
Ketujuh: Bersabarlah di awal musibah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”[10] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.
Kedelapan: Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar
Ingatlah janji Allah,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[11]
Kesembilan: Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un ...”
Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do'a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”[12]
Do'a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Kesepuluh: Introspeksi diri
Musibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30). Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.[13] Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”[14]
Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/
Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 25 Shofar 1431 H
Sabtu, 27 Oktober 2012
betapa prihatinnya kedaan anak itu, makan dari sisa makanan yg jatuh. coba bayangkan jika posisi anak ini ada pada kita!
apa kita sanggup?
apa kita kuat menjalaninya? "GA ADA SEORANGPUN YANG INGIN HIDUP MISKIN" adakah niat untuk saling memberi? dg mngumpulkan uang" receh hanya untuk 1 tujuan "DIBERIKAN". inilah jalan hidup, makhluk sosial yg saling membutuhkan. sudah banyak nikm
apa kita sanggup?
apa kita kuat menjalaninya? "GA ADA SEORANGPUN YANG INGIN HIDUP MISKIN" adakah niat untuk saling memberi? dg mngumpulkan uang" receh hanya untuk 1 tujuan "DIBERIKAN". inilah jalan hidup, makhluk sosial yg saling membutuhkan. sudah banyak nikm
at yg kita miliki, bersyukurlah untuk membantu sesama.
Islam mengajarkan, membantu saudara" kita yg benar" membutuhkan.
cairkan hati, bantu mereka. untuk saling berbagi, membantu sesama.
semua ada hikmahnya.
Islam mengajarkan, membantu saudara" kita yg benar" membutuhkan.
cairkan hati, bantu mereka. untuk saling berbagi, membantu sesama.
semua ada hikmahnya.
semua pasti bisa :)
ketika diri berada pada situasi yang kelam dan gelap. ketika di sekitar tak menampakan cahayanya, yang ada hanya sunyi & sepi.
bukalah mata hati, biarkanlah suara hati memanggil, yang menuntun pada titik terang untuk menunjukan kebenaran. di antara kgelapan yang menjadi mayoritas, jangan sampai kita hanya diam dalam kegelapan, pasti di situ terdapat sebuah cahanya meski hanya setitik.
carilah biarkan hati, qolbu, dan
{semua tergantung diri kita sendiri}
bukalah mata hati, biarkanlah suara hati memanggil, yang menuntun pada titik terang untuk menunjukan kebenaran. di antara kgelapan yang menjadi mayoritas, jangan sampai kita hanya diam dalam kegelapan, pasti di situ terdapat sebuah cahanya meski hanya setitik.
carilah biarkan hati, qolbu, dan
emosi positif bersatu.
tapi jgan hanya mendengar n bergerak bila di tuntun.
kita bisa melakukan apapun untuk sebuah keberhasilan dengan cara yang baik meski kita berada di lingkungan yg kelam.tapi jgan hanya mendengar n bergerak bila di tuntun.
{semua tergantung diri kita sendiri}
seandainya
akan
tiba saat di mana alam smesta ini mulai jenuh menampung makhluk tanpa
syukur. apa yg bisa kita lakukan ketika langit memerah mengeluarkan
amarahnya. bumi melontarkan penghuninya dan mengeluarkan isi kandungannya.
ga ada lagi tempat berlari, sembunyi, mengadu.
ajal di depan mata, ga ada lagi yg bisa bilang "mati gw masi lama, gw masi muda" yg sbenarna ga ada jaminan buat kita besok masi bisa membuka mata untuk menjalani hari.
HARI AKHIR PASTI DATANG. bisa dlm htungan hari, jam, menit ataupun detik dari skarang.
ayo menjadi manusia yg tidak merugi.
ga ada lagi tempat berlari, sembunyi, mengadu.
ajal di depan mata, ga ada lagi yg bisa bilang "mati gw masi lama, gw masi muda" yg sbenarna ga ada jaminan buat kita besok masi bisa membuka mata untuk menjalani hari.
HARI AKHIR PASTI DATANG. bisa dlm htungan hari, jam, menit ataupun detik dari skarang.
ayo menjadi manusia yg tidak merugi.
Ungu_ Izinkan Aku
[intro] em c d bm em
c d em
c d bm semua
yang kulihat ada pada dirimu em
c d seperti
yang pernah kurasa
em c d dari
kekasihku yang dulu
bm em c
d yang
pernah singgah dalam peraduan cintaku [intro]
em c d bm em c d
em c d andai
semua bisa terucap bm
em c
d dari
mulutku yang kelu di hadapan dirimu
em c d mungkin
semua takkan begini
bm em c
d menyudutkanku
terdiam kaku di hadapanmu
g bm em am
d ijinkan
aku menjadi kekasih hatimu yang baru
g bm em am
d ijinkan
aku menyatakan bahwa ku sayang padamu am
bm ketika
rasa yang telah tercipta am
em melukiskan
bayang dirimu am
bm semakin
membuatku ingin kan kamu c
d menjadi
kekasihku [interlude]
em c d bm em c d 2x
g bm em am
d ijinkan
aku menjadi kekasih hatimu yang baru
g bm em am
d ijinkan
aku menyatakan bahwa ku sayang padamu
g bm em am
d ijinkan
aku menjadi kekasih hatimu yang baru
g bm em am
d ijinkan
aku menyatakan bahwa ku sayang padamu [ending]
em c d bm em c dKamis, 25 Oktober 2012
Apa Itu Syiah Rafidhah?
oleh Islam Itu Mudah pada 11 Februari 2012 pukul 4:57 •
Beberapa bulan belakangan ini terasa ada eskalasi gerakan Syiah di Indonesia. Eskalasi ini sebagiannya tercover dalam media massa sedangkan sebagian besar justru tidak terungkap di media massa mainstream, seperti geliat mereka di social media atau blog-blog. Yang mengemuka di media massa pada umumnya hanya berita buruk saja, yaitu pecahnya konflik antara penganut Syiah dan Sunni. Sebagai efeknya, kembali mengemuka wacana untuk bertoleransi kepada penganut Syiah. Tidak salah, tapi sebetulnya solusinya masih parsial karena kebanyakan Muslim saat ini masih kurang memahami apa sebetulnya yang terjadi antara Syiah dengan Sunni. Dalam benak banyak kaum muslimin, perbedaan antara Syiah dan Sunni seolah perbedaan kecil seperti yang terjadi antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam urusan ibadah. Topik inilah yang akan menjadi bahasan pada tulisan ini.
Definisi
Secara bahasa "Syiah" artinya adalah pengikut. Istilah "Syiah" yang sering kita gunakan adalah merujuk kepada para pengikut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi SAW. Dari tinjauan sejarah kaum Syiah ini sudah ada sejak periode yang sangat awal sekali, yaitu pada masa khulafa' rasyidun. Tetapi jangan dianggap Syiah pada masa itu serupa dengan Syiah yang ada sekarang. Jika kita kembalikan ke makna asalnya, maka Syiah adalah mereka yang mengikuti Ali. Tetapi kemudian berkembang paham baru yang tidak sekedar mengikuti Ali melainkan juga menempatkan Ali di atas sahabat Abu Bakar dan Umar. Mereka inilah yang kemudian berkembang menjadi sekte Rafidhah di dalam tubuh Syiah.
Jika kita telusuri literatur akademik, pada umumnya ulama membedakan antara istilah Syiah dan Rafidhah. Syiah memiliki banyak varian mulai dari yang paling dekat dengan Sunni hingga yang sangat ekstrim hingga menuhankan Ali. Untuk kalangan ekstrim ini menurut Abu al Hasan al Asy'ari terdapat sebanyak 15 sekte. Yaitu: al Bayâniyyah, al Janâhiyyah, al Harbiyyah, al Mughîriyyah, al Manshuriyah, al Khithâbiyyah, al Ma'mâriyyah, al Buzaighiyyah, al `Umairiyyah, al Mufadl-dlaliyyah, asy Syarî `iyyah, an Numairiyyah, as Sabaiyyah, dan tiga sekte lainnya yang menuhankan Nabi, `Ali dan keturunannya.
Kelompok Zaidiyah adalah kelompok yang paling dekat dengan Sunni. Kelompok ini dinamakan Zaidiyah karena ketika itu dipimpin oleh seorang imam yang bernama Zaid bin Ali, cucu dari Husain bin Ali. Kelompok ini memang mengikuti sahabat Ali, namun tidak mengklaim Ali lebih mulia dari sahabat Abu Bakar dan Umar. Namun di antara keseluruhan Syiah kelompok yang paling besar adalah kelompok Imamiyah atau juga disebut Itsna `asyariyah (paham imam yang dua belas). Dalam bahasa Inggris disebut dengan "twelver". Mereka juga disebut sebagai Rafidhah (penolak) karena mereka menolak dan mengingkari kepemimpinan sahabat Abu Bakar dan Umar. Kelompok ini mengklaim bahwa Nabi SAW sudah menetapkan bahwa pengganti selepas beliau wafat adalah sahabat Ali. Dalam sejarahnya kelompok ini belum muncul pada masa sahabat Ali masih hidup. Di masa itu istilah Syiah hanya mengacu kepada golongan secara politik saja (pendukung sahabat Ali menjadi khalifah), belum berkembang menjadi sekte aqidah.
Dalam perkembangannya sekte Rafidhah ini menjadi bagian yang paling besar di antara sekte Syiah lainnya. Itu sebabnya ketika orang berbicara "Syiah" maka seolah otomatis mengacu pada "Rafidhah", padahal ini dua terma yang memiliki definisi yang cukup jauh perbedaannya. Jika kita kaji literatur yang ditulis ulama, pada umumnya mereka sangat berhati-hati. Biasanya mereka tidak menggunakan istilah "Syiah" tetapi menggunakan istilah "Rafidhah". Dengan demikian jika kita menyebutkan "Rafidhah" maka terma ini mengacu kepada sebuah paham yang melebihkan sahabat Ali ketimbang sahabat Abu Bakar dan Umar, menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, meyakini adanya dua belas imam yang makshum, dan sebagainya. Untuk menghindari diskursus yang tidak perlu mengenai istilah, saya akan menggunakan istilah Rafidhah saja.
Pendapat Kibar Ulama
Para ulama sejak masa lalu hingga saat ini banyak yang memfatwakan sesatnya golongan Rafidhah. Di antara ulama yang menyatakan kesesatannya adalah:
Imam Malik
Imam Ahmad
Al Qurtuby
Ibn Katsir
Al Bukhari
Abu Zur'ah ar Razi
Ibnu Qutaibah
Abdul Qadir al Baghdadi
Al Qadhi Abu Ya'la
Ibnu Hazm
Abu Hamid Al Ghazali
Al Qadhi `Iyadh
Ar Rozi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Ulama-ulama tersebut menuliskan pendapatnya dalam buku-buku induk mereka, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurtuby, Khalqu af'alil Ibad (Imam Bukhari), Fadhaihul Bathiniyyah (Imam Ghazali), dan Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah.
Di antara ulama kontemporer yang sangat concern terhadap urusan ini adalah Syaikh Yusuf Qaradhawi. Beliau adalah salah satu penggagas utama dialog Sunni-Syiah dari kalangan Ahlus Sunnah, meskipun dialog ini masih kandas karena pihak Syiah (Rafidhah) menolak memulai dialog dengan menghentikan laknatnya pada para sahabat Nabi. Syaikh Yusuf Qaradhawi tidak mengatakan Syiah (Rafidhah) sesat melainkan sebagai ahli bid'ah. Di antara bid'ah Rafidhah misalnya memperingati kematian Husain setiap tahun dengan menampar-nampar muka, dada, dan punggung hingga berdarah-darah. Selain itu beliau juga tidak sepakat dengan pendapat bahwa Nabi telah memilih Ali sebagai penggantinya.
Dari ekstensifnya daftar ulama yang menyatakan kesesatan Rafidhah ini rasanya pendapat bahwa Syiah Rafidhah itu sesat sudah mendapat legitimasi yang lebih dari sekadar cukup. Mereka adalah para ulama besar yang diakui kredibilitasnya di semua madzhab Ahlus Sunnah, bukan sekedar anak-anak muda yang mengklaim sedang dalam pencarian aqidah. Tetapi pembahasan ini tidak ingin saya hentikan di situ. Mari kita coba lihat pemahaman utama dari aqidah Rafidhah.
Rafidhah
Berikut ini dipaparkan paham Rafidhah yang tertulis dalam Fatwa-fatwa Khomeini tentang Aqidah dalam kitabnya Kasyful Asyrar, seperti yang dirangkumkan oleh Ustadz Aba Abdullaah di situs al-ikhwan.net.
1. Meminta Sesuatu Kepada Orang yang Telah Mati Tidak Termasuk Syirik.
"Ada yang berkata, bahwa meminta sesuatu pada orang yang telah mati baik itu Rasul maupun Imam adalah syirik, karena mereka tidak bisa memberi manfaat dan madharat pada orang yang masih hidup. Maka saya (Khomeini) katakan: Tidak, hal tersebut tidak termasuk syirik, bahkan meminta sesuatu pada batu atau pohon juga tidak termasuk syirik, walaupun perbuatan tersebut adalah perbuatan orang yang bodoh. Maka jika yang demikian itu bukanlah syirik apalagi meminta pada Rasul dan Imam-imam yang telah wafat, karena telah jelas dalam dalil maupun akal bahwa ruh yang telah mati malah memiliki kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat dan ilmu filsafat pun telah membenarkan dan membahas hal tersebut secara panjang lebar." (hal. 49)
2. Penyimpangan Abu Bakar dan Umar terhadap Al-Qur'an.
"Di sini saya katakan dengan tegas bahwa Abu Bakar dan Umar menyelisihi Al-Qur'an dan mempermainkan Tuhan dan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal menurut hawa nafsu mereka dan bagaimana mereka berdua juga telah berbuat kezhaliman dengan melawan Fathimah putri nabi SAW dan oleh karenanya mereka berdua menjadi bodoh terhadap hukum Allah dan hukum agama." (hal. 126)
"Kita juga melihat ketika ia (Umar ra) yang buta mata hatinya itu mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kekafiran dan ke-zindiq-annya, yaitu penolakannya pada Al-Qur'an surat an-Najm, ayat-3." (hal. 137)
3. Dalil-Dalil Tentang Disyariatkannya Taqiyyah (Boleh berdusta kepada selain orang Syi'ah):
"Dan kami tidak mengerti bagaimana mereka (ahlus-sunnah) menjauhi hikmah dan menyimpang karena hawa nafsu mereka, bagaimana tidak? Sedangkan taqiyyah adalah hukum akal yang paling jelas. Dan taqiyyah maknanya: seorang manusia berkata dengan perkataan yang berbeda dengan kenyataannya atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat karena menjaga darahnya, kehormatannya atau hartanya." (hal. 148)
"Maka termasuk bab taqiyyah jika kadangkala diperintahkan menyelisihi hukum-hukum Allah, sampai dibolehkan seorang pengikut Syi'ah berbeda dengan apa yang dihatinya untuk menyesatkan selain mereka (Syi'ah) dan agar mereka itu (selain Syi'ah) terjatuh dalam kebinasaan." (hal. 148)
4. Mengapa Imamah (Aqidah tentang Imam yang Dua Belas -pen) Tidak Disebutkan dalam Al-Qur'an?
"Setelah aku jelaskan bahwa Keyakinan akan 12 Imam adalah ushuluddin (dasar aqidah Islam), dan bahwa al-Qur'an telah mengisyaratkan tentang hal tersebut secara tersirat. Dan aku jelaskan bahwa nabi SAW sengaja menyembunyikan ayat-ayat tentang Imamah dalam al-Qur'an karena takut al-Qur'an tersebut diselewengkan setelahnya, atau karena beliau SAW takut terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin sehingga akan berdampak yang demikian itu terhadap aqidah Islam." (hal. 149)
5. Khulafa Rasyidun adalah Ahlul Bathil
"Dan telah kukatakan beberapa potongan dari kitab Nahjul-Balaghah yang menetapkan bahwa Ali ra berpandangan bahwa para Khulafa selainnya adalah bathil." (hal. 186)
6. Penetapan ratapan atas Husein dan menjambak rambut serta merobek-robek baju baginya setiap tahun sebagai Bagian dari ajaran Agama.
"Tidak ada dalam majlis tersebut kekurangan, karena semua itu adalah pelaksanaan perintah agama dan akhlaqiyyahnya dan tersebarnya fadhilah dan akhlaq yang paling tinggi serta aturan dari sisi Allah serta hukum yang lurus yang merupakan pencerminan dari madzhab Syi'ah yang suci yang ittiba' pada Ali alaihis salam." (hal. 192)
7. Wilayatul Faqih (penetapan kepemimpinan para ulama besar Syi'ah sampai saat bangkitnya kembali Imam ke-12 Syi'ah -pen)
"Syaikh ash-Shaduq dalam kitab Ikmalud-Din, dan syaikh ath-Thusiy dalam kitab al-Ghaybah, dan at-Thabrasiy dalam kitab al-Ihtijaj menukil dari Imam yang Ghaib (Imam ke-12 Syi'ah yang sekarang sedang menghilang -pen), sbb: Adapun hadits-hadits yang jelas maka hendaklah merujuk pada para periwayat hadits-hadits kami (syi'ah -pen), karena mereka semua adalah hujjahku atas kalian dan aku adalah hujjah Allah! Lalu kata Khomeini selanjutnya: maka wajib atas manusia pada masa ghaibnya Imam (ke-12 tersebut -pen) untuk merujuk semua urusan mereka pada para periwayat hadits (syi'ah) dan taat pada mereka karena Imam telah menjadikan mereka itu hujjahnya." (hal. 206)
"Maka jelaslah dari hadits tersebut bahwa para Mujtahid adalah hakim dan barangsiapa yang menolak maka sama dengan menolak Imam dan barangsiapa menolak Imam maka berarti menolak Allah dan menolak Allah berarti syirik kepada-Nya." (hal. 207)
Tujuh poin di atas adalah sebagian di antara berbagai kekeliruan yang dimiliki aqidah Rafidhah. Rasanya tidak akan ada penganut Rafidhah yang mengabaikan begitu saja fatwa Khomeini. Kalau ternyata memang ada maka kita patut bertanya apakah dia sedang ber-taqiyyah atau tidak. Pun jika dia mengatakan tidak, kita juga akan kembali bertanya-tanya apakah dia mengatakan "tidak" dalam rangka taqiyah atau tidak?
Poin pertama di atas menunjukkan kekeliruan yang sangat parah. Dalam Islam syirik adalah dosa yang tidak terampuni tanpa adanya taubat. Jika sebuah ajaran menyatakan bahwa meminta sesuatu pada batu atau pohon bukanlah perbuatan syirik (meskipun dia tidak melakukannya) maka nyata sekali kesesatannya.
Poin kedua adalah poin yang membuat anatomi Sunni dan Syiah (Rafidhah) secara keseluruhan luar biasa berbeda. Penolakan Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakar dan Umar adalah satu paket dengan penolakannya terhadap Ummul Mukminin Aisyah, sahabat Abu Hurairah, Muawiyah, dan lain-lain. Paham ini mengakibatkan mereka menolak luar biasa banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh mereka (para sahabat tadi). Implikasinya hadits-hadits yang diteliti oleh para ulama hadits besar seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dsb banyak sekali yang mereka tolak. Akibatnya besar sekali terhadap struktur aqidah dan bentuk fiqih ibadah mereka. Bahkan rukun Iman mereka saja berbeda. Ada satu rukun tambahan yaitu Imamah. Muslim Ahlus Sunnah tidak mengimani Imamah sebagai rukun Iman, maka dengan demikian tanpa dikafir-kafirkan pun menurut pandangan Syiah Rafidhah, Ahlus Sunnah adalah otomatis kafir.
Pada poin kelima nampak bahwa seolah sahabat Ali pernah mengatakan demikian dalam kitab Nahjul Balaghah. Tetapi Imam Adz Dzahabi dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani mengatakan buku tersebut adalah buku palsu yang mengatasnamakan sahabat Ali ra. Implikasi dari pernyataan bahwa Khulafa Rasyidun selain Ali ra adalah bathil, adalah menolak kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya termasuk Khalifah Utsman ra. Padahal Al Quran yang sekarang beredar di dunia dikumpulkan dan disatukan atas kebijakan Khalifah Utsman. Jika sahabat Utsman dibenci sedemikian rupa apatah lagi hasil kerjanya. Tapi kemudian muncul pertanyaan, kenapa mushaf yang dipakai oleh orang Syiah sedunia adalah mushaf Utsmani? Habisnya mau pakai apa lagi? Syiah Rafidhah itu muncul jauh setelah masa hidup sahabat Ali ra. Bagaimana mereka bisa menyusun Al Quran versi mereka sendiri?
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Tentunya banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri dan keluarga kita dari berbagai aqidah sesat. Selain memperdalam pengetahuan aqidah Islam, mempelajari aqidah lain agar tidak terjerumus dalam muslihatnya juga perlu dilakukan.
Dalam dunia training ada sebuah metode yang secara umum disebut "cuci otak". Metode ini sejatinya adalah metode yang digunakan untuk mengubah paradigma seseorang akan sesuatu. Metode ini adalah metode umum yang dapat dipelajari sehingga banyak diterapkan dalam berbagai keperluan. Sayangnya metode ini pula yang sering digunakan oleh pendukung-pendukung Syiah (Rafidhah) dalam menyebarkan paham sesatnya sehingga menggoyahkan aqidah kita. Banyak di antara kita yang tidak kuliah di jurusan hadits, maka mungkin sekali akan ada yang bingung jika ada yang mempertanyakan kenapa Ahlus Sunnah menerima hadits-hadits shahih Bukhari-Muslim tanpa reserve. Kita tidak mendalami tafsir dan sejarah Islam, maka mungkin sekali akan ada yang bingung jika tiba-tiba ada yang mempertanyakan status para sahabat satu persatu yang jumlah keseluruhannya mencapai lebih dari 100 ribu orang. Apalagi ditambah klaim bahwa seleksi hadits di kalangan Syiah lebih ketat dari Ahlus Sunnah. Diskursus seperti ini berbahaya jika diikuti sepotong-sepotong. Harus dijelaskan sampai tuntas sehingga aqidah Islam kita tidak tercuci dan digantikan dengan aqidah Rafidhah.
Jika memang di antara kita ada yang bimbang dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, sangat dianjurkan untuk mengkajinya lebih jauh. Tapi pasang sudut pandang yang jelas: sudut pandang Ahlus Sunnah. Apakah masih meragukan kredibilitas para ulama yang saya sebutkan di atas? Apakah mungkin mereka bersepakat untuk membohongi ummat?
Sumber:
Syiah Rafidhah 101
Oleh: Fathi Nashrullah
http://www.fimadani.com/syiah-rafidhah-101/
Beberapa bulan belakangan ini terasa ada eskalasi gerakan Syiah di Indonesia. Eskalasi ini sebagiannya tercover dalam media massa sedangkan sebagian besar justru tidak terungkap di media massa mainstream, seperti geliat mereka di social media atau blog-blog. Yang mengemuka di media massa pada umumnya hanya berita buruk saja, yaitu pecahnya konflik antara penganut Syiah dan Sunni. Sebagai efeknya, kembali mengemuka wacana untuk bertoleransi kepada penganut Syiah. Tidak salah, tapi sebetulnya solusinya masih parsial karena kebanyakan Muslim saat ini masih kurang memahami apa sebetulnya yang terjadi antara Syiah dengan Sunni. Dalam benak banyak kaum muslimin, perbedaan antara Syiah dan Sunni seolah perbedaan kecil seperti yang terjadi antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam urusan ibadah. Topik inilah yang akan menjadi bahasan pada tulisan ini.
Definisi
Secara bahasa "Syiah" artinya adalah pengikut. Istilah "Syiah" yang sering kita gunakan adalah merujuk kepada para pengikut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi SAW. Dari tinjauan sejarah kaum Syiah ini sudah ada sejak periode yang sangat awal sekali, yaitu pada masa khulafa' rasyidun. Tetapi jangan dianggap Syiah pada masa itu serupa dengan Syiah yang ada sekarang. Jika kita kembalikan ke makna asalnya, maka Syiah adalah mereka yang mengikuti Ali. Tetapi kemudian berkembang paham baru yang tidak sekedar mengikuti Ali melainkan juga menempatkan Ali di atas sahabat Abu Bakar dan Umar. Mereka inilah yang kemudian berkembang menjadi sekte Rafidhah di dalam tubuh Syiah.
Jika kita telusuri literatur akademik, pada umumnya ulama membedakan antara istilah Syiah dan Rafidhah. Syiah memiliki banyak varian mulai dari yang paling dekat dengan Sunni hingga yang sangat ekstrim hingga menuhankan Ali. Untuk kalangan ekstrim ini menurut Abu al Hasan al Asy'ari terdapat sebanyak 15 sekte. Yaitu: al Bayâniyyah, al Janâhiyyah, al Harbiyyah, al Mughîriyyah, al Manshuriyah, al Khithâbiyyah, al Ma'mâriyyah, al Buzaighiyyah, al `Umairiyyah, al Mufadl-dlaliyyah, asy Syarî `iyyah, an Numairiyyah, as Sabaiyyah, dan tiga sekte lainnya yang menuhankan Nabi, `Ali dan keturunannya.
Kelompok Zaidiyah adalah kelompok yang paling dekat dengan Sunni. Kelompok ini dinamakan Zaidiyah karena ketika itu dipimpin oleh seorang imam yang bernama Zaid bin Ali, cucu dari Husain bin Ali. Kelompok ini memang mengikuti sahabat Ali, namun tidak mengklaim Ali lebih mulia dari sahabat Abu Bakar dan Umar. Namun di antara keseluruhan Syiah kelompok yang paling besar adalah kelompok Imamiyah atau juga disebut Itsna `asyariyah (paham imam yang dua belas). Dalam bahasa Inggris disebut dengan "twelver". Mereka juga disebut sebagai Rafidhah (penolak) karena mereka menolak dan mengingkari kepemimpinan sahabat Abu Bakar dan Umar. Kelompok ini mengklaim bahwa Nabi SAW sudah menetapkan bahwa pengganti selepas beliau wafat adalah sahabat Ali. Dalam sejarahnya kelompok ini belum muncul pada masa sahabat Ali masih hidup. Di masa itu istilah Syiah hanya mengacu kepada golongan secara politik saja (pendukung sahabat Ali menjadi khalifah), belum berkembang menjadi sekte aqidah.
Dalam perkembangannya sekte Rafidhah ini menjadi bagian yang paling besar di antara sekte Syiah lainnya. Itu sebabnya ketika orang berbicara "Syiah" maka seolah otomatis mengacu pada "Rafidhah", padahal ini dua terma yang memiliki definisi yang cukup jauh perbedaannya. Jika kita kaji literatur yang ditulis ulama, pada umumnya mereka sangat berhati-hati. Biasanya mereka tidak menggunakan istilah "Syiah" tetapi menggunakan istilah "Rafidhah". Dengan demikian jika kita menyebutkan "Rafidhah" maka terma ini mengacu kepada sebuah paham yang melebihkan sahabat Ali ketimbang sahabat Abu Bakar dan Umar, menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, meyakini adanya dua belas imam yang makshum, dan sebagainya. Untuk menghindari diskursus yang tidak perlu mengenai istilah, saya akan menggunakan istilah Rafidhah saja.
Pendapat Kibar Ulama
Para ulama sejak masa lalu hingga saat ini banyak yang memfatwakan sesatnya golongan Rafidhah. Di antara ulama yang menyatakan kesesatannya adalah:
Imam Malik
Imam Ahmad
Al Qurtuby
Ibn Katsir
Al Bukhari
Abu Zur'ah ar Razi
Ibnu Qutaibah
Abdul Qadir al Baghdadi
Al Qadhi Abu Ya'la
Ibnu Hazm
Abu Hamid Al Ghazali
Al Qadhi `Iyadh
Ar Rozi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Ulama-ulama tersebut menuliskan pendapatnya dalam buku-buku induk mereka, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurtuby, Khalqu af'alil Ibad (Imam Bukhari), Fadhaihul Bathiniyyah (Imam Ghazali), dan Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah.
Di antara ulama kontemporer yang sangat concern terhadap urusan ini adalah Syaikh Yusuf Qaradhawi. Beliau adalah salah satu penggagas utama dialog Sunni-Syiah dari kalangan Ahlus Sunnah, meskipun dialog ini masih kandas karena pihak Syiah (Rafidhah) menolak memulai dialog dengan menghentikan laknatnya pada para sahabat Nabi. Syaikh Yusuf Qaradhawi tidak mengatakan Syiah (Rafidhah) sesat melainkan sebagai ahli bid'ah. Di antara bid'ah Rafidhah misalnya memperingati kematian Husain setiap tahun dengan menampar-nampar muka, dada, dan punggung hingga berdarah-darah. Selain itu beliau juga tidak sepakat dengan pendapat bahwa Nabi telah memilih Ali sebagai penggantinya.
Dari ekstensifnya daftar ulama yang menyatakan kesesatan Rafidhah ini rasanya pendapat bahwa Syiah Rafidhah itu sesat sudah mendapat legitimasi yang lebih dari sekadar cukup. Mereka adalah para ulama besar yang diakui kredibilitasnya di semua madzhab Ahlus Sunnah, bukan sekedar anak-anak muda yang mengklaim sedang dalam pencarian aqidah. Tetapi pembahasan ini tidak ingin saya hentikan di situ. Mari kita coba lihat pemahaman utama dari aqidah Rafidhah.
Rafidhah
Berikut ini dipaparkan paham Rafidhah yang tertulis dalam Fatwa-fatwa Khomeini tentang Aqidah dalam kitabnya Kasyful Asyrar, seperti yang dirangkumkan oleh Ustadz Aba Abdullaah di situs al-ikhwan.net.
1. Meminta Sesuatu Kepada Orang yang Telah Mati Tidak Termasuk Syirik.
"Ada yang berkata, bahwa meminta sesuatu pada orang yang telah mati baik itu Rasul maupun Imam adalah syirik, karena mereka tidak bisa memberi manfaat dan madharat pada orang yang masih hidup. Maka saya (Khomeini) katakan: Tidak, hal tersebut tidak termasuk syirik, bahkan meminta sesuatu pada batu atau pohon juga tidak termasuk syirik, walaupun perbuatan tersebut adalah perbuatan orang yang bodoh. Maka jika yang demikian itu bukanlah syirik apalagi meminta pada Rasul dan Imam-imam yang telah wafat, karena telah jelas dalam dalil maupun akal bahwa ruh yang telah mati malah memiliki kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat dan ilmu filsafat pun telah membenarkan dan membahas hal tersebut secara panjang lebar." (hal. 49)
2. Penyimpangan Abu Bakar dan Umar terhadap Al-Qur'an.
"Di sini saya katakan dengan tegas bahwa Abu Bakar dan Umar menyelisihi Al-Qur'an dan mempermainkan Tuhan dan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal menurut hawa nafsu mereka dan bagaimana mereka berdua juga telah berbuat kezhaliman dengan melawan Fathimah putri nabi SAW dan oleh karenanya mereka berdua menjadi bodoh terhadap hukum Allah dan hukum agama." (hal. 126)
"Kita juga melihat ketika ia (Umar ra) yang buta mata hatinya itu mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kekafiran dan ke-zindiq-annya, yaitu penolakannya pada Al-Qur'an surat an-Najm, ayat-3." (hal. 137)
3. Dalil-Dalil Tentang Disyariatkannya Taqiyyah (Boleh berdusta kepada selain orang Syi'ah):
"Dan kami tidak mengerti bagaimana mereka (ahlus-sunnah) menjauhi hikmah dan menyimpang karena hawa nafsu mereka, bagaimana tidak? Sedangkan taqiyyah adalah hukum akal yang paling jelas. Dan taqiyyah maknanya: seorang manusia berkata dengan perkataan yang berbeda dengan kenyataannya atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat karena menjaga darahnya, kehormatannya atau hartanya." (hal. 148)
"Maka termasuk bab taqiyyah jika kadangkala diperintahkan menyelisihi hukum-hukum Allah, sampai dibolehkan seorang pengikut Syi'ah berbeda dengan apa yang dihatinya untuk menyesatkan selain mereka (Syi'ah) dan agar mereka itu (selain Syi'ah) terjatuh dalam kebinasaan." (hal. 148)
4. Mengapa Imamah (Aqidah tentang Imam yang Dua Belas -pen) Tidak Disebutkan dalam Al-Qur'an?
"Setelah aku jelaskan bahwa Keyakinan akan 12 Imam adalah ushuluddin (dasar aqidah Islam), dan bahwa al-Qur'an telah mengisyaratkan tentang hal tersebut secara tersirat. Dan aku jelaskan bahwa nabi SAW sengaja menyembunyikan ayat-ayat tentang Imamah dalam al-Qur'an karena takut al-Qur'an tersebut diselewengkan setelahnya, atau karena beliau SAW takut terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin sehingga akan berdampak yang demikian itu terhadap aqidah Islam." (hal. 149)
5. Khulafa Rasyidun adalah Ahlul Bathil
"Dan telah kukatakan beberapa potongan dari kitab Nahjul-Balaghah yang menetapkan bahwa Ali ra berpandangan bahwa para Khulafa selainnya adalah bathil." (hal. 186)
6. Penetapan ratapan atas Husein dan menjambak rambut serta merobek-robek baju baginya setiap tahun sebagai Bagian dari ajaran Agama.
"Tidak ada dalam majlis tersebut kekurangan, karena semua itu adalah pelaksanaan perintah agama dan akhlaqiyyahnya dan tersebarnya fadhilah dan akhlaq yang paling tinggi serta aturan dari sisi Allah serta hukum yang lurus yang merupakan pencerminan dari madzhab Syi'ah yang suci yang ittiba' pada Ali alaihis salam." (hal. 192)
7. Wilayatul Faqih (penetapan kepemimpinan para ulama besar Syi'ah sampai saat bangkitnya kembali Imam ke-12 Syi'ah -pen)
"Syaikh ash-Shaduq dalam kitab Ikmalud-Din, dan syaikh ath-Thusiy dalam kitab al-Ghaybah, dan at-Thabrasiy dalam kitab al-Ihtijaj menukil dari Imam yang Ghaib (Imam ke-12 Syi'ah yang sekarang sedang menghilang -pen), sbb: Adapun hadits-hadits yang jelas maka hendaklah merujuk pada para periwayat hadits-hadits kami (syi'ah -pen), karena mereka semua adalah hujjahku atas kalian dan aku adalah hujjah Allah! Lalu kata Khomeini selanjutnya: maka wajib atas manusia pada masa ghaibnya Imam (ke-12 tersebut -pen) untuk merujuk semua urusan mereka pada para periwayat hadits (syi'ah) dan taat pada mereka karena Imam telah menjadikan mereka itu hujjahnya." (hal. 206)
"Maka jelaslah dari hadits tersebut bahwa para Mujtahid adalah hakim dan barangsiapa yang menolak maka sama dengan menolak Imam dan barangsiapa menolak Imam maka berarti menolak Allah dan menolak Allah berarti syirik kepada-Nya." (hal. 207)
Tujuh poin di atas adalah sebagian di antara berbagai kekeliruan yang dimiliki aqidah Rafidhah. Rasanya tidak akan ada penganut Rafidhah yang mengabaikan begitu saja fatwa Khomeini. Kalau ternyata memang ada maka kita patut bertanya apakah dia sedang ber-taqiyyah atau tidak. Pun jika dia mengatakan tidak, kita juga akan kembali bertanya-tanya apakah dia mengatakan "tidak" dalam rangka taqiyah atau tidak?
Poin pertama di atas menunjukkan kekeliruan yang sangat parah. Dalam Islam syirik adalah dosa yang tidak terampuni tanpa adanya taubat. Jika sebuah ajaran menyatakan bahwa meminta sesuatu pada batu atau pohon bukanlah perbuatan syirik (meskipun dia tidak melakukannya) maka nyata sekali kesesatannya.
Poin kedua adalah poin yang membuat anatomi Sunni dan Syiah (Rafidhah) secara keseluruhan luar biasa berbeda. Penolakan Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakar dan Umar adalah satu paket dengan penolakannya terhadap Ummul Mukminin Aisyah, sahabat Abu Hurairah, Muawiyah, dan lain-lain. Paham ini mengakibatkan mereka menolak luar biasa banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh mereka (para sahabat tadi). Implikasinya hadits-hadits yang diteliti oleh para ulama hadits besar seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dsb banyak sekali yang mereka tolak. Akibatnya besar sekali terhadap struktur aqidah dan bentuk fiqih ibadah mereka. Bahkan rukun Iman mereka saja berbeda. Ada satu rukun tambahan yaitu Imamah. Muslim Ahlus Sunnah tidak mengimani Imamah sebagai rukun Iman, maka dengan demikian tanpa dikafir-kafirkan pun menurut pandangan Syiah Rafidhah, Ahlus Sunnah adalah otomatis kafir.
Pada poin kelima nampak bahwa seolah sahabat Ali pernah mengatakan demikian dalam kitab Nahjul Balaghah. Tetapi Imam Adz Dzahabi dan Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani mengatakan buku tersebut adalah buku palsu yang mengatasnamakan sahabat Ali ra. Implikasi dari pernyataan bahwa Khulafa Rasyidun selain Ali ra adalah bathil, adalah menolak kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya termasuk Khalifah Utsman ra. Padahal Al Quran yang sekarang beredar di dunia dikumpulkan dan disatukan atas kebijakan Khalifah Utsman. Jika sahabat Utsman dibenci sedemikian rupa apatah lagi hasil kerjanya. Tapi kemudian muncul pertanyaan, kenapa mushaf yang dipakai oleh orang Syiah sedunia adalah mushaf Utsmani? Habisnya mau pakai apa lagi? Syiah Rafidhah itu muncul jauh setelah masa hidup sahabat Ali ra. Bagaimana mereka bisa menyusun Al Quran versi mereka sendiri?
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Tentunya banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri dan keluarga kita dari berbagai aqidah sesat. Selain memperdalam pengetahuan aqidah Islam, mempelajari aqidah lain agar tidak terjerumus dalam muslihatnya juga perlu dilakukan.
Dalam dunia training ada sebuah metode yang secara umum disebut "cuci otak". Metode ini sejatinya adalah metode yang digunakan untuk mengubah paradigma seseorang akan sesuatu. Metode ini adalah metode umum yang dapat dipelajari sehingga banyak diterapkan dalam berbagai keperluan. Sayangnya metode ini pula yang sering digunakan oleh pendukung-pendukung Syiah (Rafidhah) dalam menyebarkan paham sesatnya sehingga menggoyahkan aqidah kita. Banyak di antara kita yang tidak kuliah di jurusan hadits, maka mungkin sekali akan ada yang bingung jika ada yang mempertanyakan kenapa Ahlus Sunnah menerima hadits-hadits shahih Bukhari-Muslim tanpa reserve. Kita tidak mendalami tafsir dan sejarah Islam, maka mungkin sekali akan ada yang bingung jika tiba-tiba ada yang mempertanyakan status para sahabat satu persatu yang jumlah keseluruhannya mencapai lebih dari 100 ribu orang. Apalagi ditambah klaim bahwa seleksi hadits di kalangan Syiah lebih ketat dari Ahlus Sunnah. Diskursus seperti ini berbahaya jika diikuti sepotong-sepotong. Harus dijelaskan sampai tuntas sehingga aqidah Islam kita tidak tercuci dan digantikan dengan aqidah Rafidhah.
Jika memang di antara kita ada yang bimbang dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, sangat dianjurkan untuk mengkajinya lebih jauh. Tapi pasang sudut pandang yang jelas: sudut pandang Ahlus Sunnah. Apakah masih meragukan kredibilitas para ulama yang saya sebutkan di atas? Apakah mungkin mereka bersepakat untuk membohongi ummat?
Sumber:
Syiah Rafidhah 101
Oleh: Fathi Nashrullah
http://www.fimadani.com/syiah-rafidhah-101/
bunga_ kasih jangan kau pergi
Intro: G D Em C7
G D
Wajahmu selalu terbayang
Em
Dalam setiap angan
C7
Yang tak pernah hilang
G
Walau sekejap
G D
Ingin slalu dekat denganmu
Em
Enggan hati berpisah
C7
Larut dalam dekapanmu
G D Em C7
Setiap saat......setiap saat
G D
Reff : Oh kasih, janganlah pergi
Em C7
Tetaplah kau slalu di sini
G D
Jangan biarkan diriku sendiri
C
Larut di dalam sepi
Kembali ke : Reff
Int : G D Em C7
G D
Peluklah dalam belaianmu
Em
Tiada pernah ku lepas
C7
Biarlah dirimu ku manja
G
Dalam pelukan
G D
Gemulai setiap gerakkanmu
Em
Membuatku slalu rindu
C7
Ku kecup lembut bibirmu
G
Ku sayang padamu
D Em C7
Ku sayang padamu
Kembali ke : Reff
Int: G D Em C7
Kembali ke : Reff
G D
Wajahmu selalu terbayang
Em
Dalam setiap angan
C7
Yang tak pernah hilang
G
Walau sekejap
G D
Ingin slalu dekat denganmu
Em
Enggan hati berpisah
C7
Larut dalam dekapanmu
G D Em C7
Setiap saat......setiap saat
G D
Reff : Oh kasih, janganlah pergi
Em C7
Tetaplah kau slalu di sini
G D
Jangan biarkan diriku sendiri
C
Larut di dalam sepi
Kembali ke : Reff
Int : G D Em C7
G D
Peluklah dalam belaianmu
Em
Tiada pernah ku lepas
C7
Biarlah dirimu ku manja
G
Dalam pelukan
G D
Gemulai setiap gerakkanmu
Em
Membuatku slalu rindu
C7
Ku kecup lembut bibirmu
G
Ku sayang padamu
D Em C7
Ku sayang padamu
Kembali ke : Reff
Int: G D Em C7
Kembali ke : Reff
Langganan:
Postingan (Atom)












